Sabtu, 22 September 2012

leaf morphology


Daun (leaf)

Tumbuhan memliki daun. daun merupakan bagian tumbuhan yang timbuh dari batang. daun umumny berbentuk tipis dan berwarna hijau. Warna hijau tersebut disebabkan adanya klorofil pada daun. Namun, ada juga daun yang berwarna kuning, merah atau ungu.
Berdasarkan struktur daunnya, morfologi daun dibedakan menjadi:
1.      Bentuk daun berdasarkan tepi daun (rata, bergerigi)
2.      Daun berdasarkan jumlah anak daun dalam satu tangkai
3.      Daun berdasarkan tulang daun
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVHGwLJVpKOk3CRfRSgWyA0jw13u6qtCBcDdE9pj8cIg9ygXfoBOxOvu4w3_Apn_Xkb-yKSrUUWT1fcaCELhPLGzR_W0yVCKkzK_M43YacFpjMj1pSRL_AxxOaWuP7AjvBbQEGe0SNUVqI/s320/011%252520Leaf%252520margins.jpg


Struktur Daun dan Fungsinya
Struktur Daun

Bagian-bagian daun lengkap terdiri atas tulang daun, helai daun, tangkai daun, dan pelepah daun. Contoh daun yang memiliki bagian-bagian lengkap, antara lain daun pisang dan daun bambu. Di alam, kebanyakan tumbuhan memiliki daun yang tidak lengkap. Misalnya, ada daun yang hanya terdiri atas tangkai dan helai daun saja, contohnya daun mangga; ada pula daun yang hanya terdiri atas pelepah dan helai daun saja, contohnya daun padi dan jagung. 

       Selain itu, daun juga memiliki urat. Urat daun adalah susunan pembuluh pengangkut pada daun. Tumbuhan monokotil memiliki urat daun yang memanjang dari pangkal ke ujung daun secara sejajar. Tumbuhan dikotil memiliki urat daun yang membentuk jaringan. Urat daun tersebut bercabang-cabang hingga menjadi percabangan kecil dan membentuk susunan seperti jaring atau jala.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQgoB10EROweWGNPp48JY0AWq7XrfsdTmQD9pOlIX4sceSbP8fvT5NQe2ngbo0mkiNyeEbjos_qGBVri0tz3rbMlJFCZfSp2N_1h-tXvr9bhRAP8YZpnuq0I9PHSQ2GFIm6euEKkBzwqzX/s320/LeavesDicotMonocotColor400.jpg

Berdasarkan susunan tulang daunnya, daun dibedakan menjadi;
Bentuk tulang daun juga bermacam-macam, antara lain, menyirip, melengkung, menjari, dan sejajar.
Tulang daun Menyirip.
      Tulang daun jenis ini memiliki susunan seperti sirip-sirip ikan, tersusun rapi mulai dari tangkai daun hingga ujung dari helai daun. Contoh tumbuhan yang memiliki jenis tulang seperti ini adalah tulang daun jambu, mangga, dan rambutan.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj45rzDwg7FFuWxhXbHLGtEibhCwu6DMkk8kBUxD2ZEhhDDKqiZ-hz4OIeldAT9UAurwi1i1spX75dy7VGxaPbbs3hYUNm7rHbYuvt2Cy2lD4o0eINsKCYRbGAQU9CKKK5Tv6K5TTlD-CSY/s1600/daun013dj1-199x300.jpg
Tulang daun Melengkung.
       Tulang daun melengkung berbentuk seperti garis-garis melengkung. Tulang daun jenis ini dapat kita temukan pada berbagai tumbuhan di lingkungan sekitar kita. Misalnya, tulang daun sirih, gadung, dan genjer.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgl36q2UVyS_bi6Nmz1QF9gK8fB5y6i_vkgtXfSHf3xD-6BTZaRZVS-LvN7vmZ1ZZVJhY8NTgFKvW5eqW-YEb9VouxIz2u8XrcpEElqUPbm6lDflDxGjC22wYF5QD2WYwMntNacNxR1giVc/s320/daun_sirih.jpg


Tulang daun Menjari.
      Tanaman ini mempunyai satu tulang daun yang besar dan bentuknya seperti jari-jari tangan manusia. Misalnya, tulang daun pepaya, jarak, daun singkong, dan kapas.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKH5kvhn9Fc6vkQydi5F6fvDz85K21PGm5286r-7NrnYoQvR4OuWU_lGu5yy91LJwHO6i8gFOggIjXQabOW_xBoh3HWDs2WseoUbyKE3fd9to7GlvPHvmwCqt4Jxw0w64en2ZT7kI-fLLC/s320/daun-pepaya1.jpg
Tulang daun Sejajar.
      Tulang daun sejajar berbentuk seperti garis-garis sejajar, mulai dari pangkal daun hingga ujung daun. Tiap-tiap ujung tulang daun menyatu. Biasanya bentuk daunnya panjang-panjang. Misalnya, tulang daun tebu, padi, jagung, alang-alang dan semua jenis rumput-rumputan.



Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrT01vp3oYTwdIO_Cbys5ZVOhwvYU9SnF_ZuJPImCjZHRtwCcJ_eP5Px-ufwyJddpbP9dEN_Vho-b2yPFwfTpt2-mgpoQEBc2rJyDq1riTisrbKbkPuOXel8Hmvl-hz4FSQFNeq1iaKweC/s320/6.jpg

Fungsi Daun
       Bagi tumbuhan, daun memiliki beberapa kegunaan. Misalnya, sebagai tempat pembuatan makanan, pernapasan, penguapan dan alat perkembang-biakan vegetatif.
1.      Tempat Pembuatan Makanan (Fotosintesis).
      Daun berguna sebagai dapur tumbuhan. Di dalam daun terjadi proses pembuatan makanan (pemasakan makanan). Makanan ini digunakan tumbuhan untuk kelangsungan proses hidupnya dan jika lebih disimpan.
2.      Tempat Pernapasan (Respirasi).
      Di permukaan daun terdapat mulut daun (stomata). Melalui stomata inilah, pertukaran gas terjadi. Daun mengambil karbondioksida dari udara dan melepas oksigen ke udara. Proses inilah yang menyebabkan kamu merasa nyaman saat berada di bawah pohon pada siang hari.
3.      Tempat Penguapan (Transpirasi).
      Tidak semua air yang diserap akar dipakai oleh tumbuhan. Kelebihan air ini jika tidak dibuang dapat menyebabkan tumbuhan menjadi busuk dan mati. Sebagian air yang tidak digunakan dibuang melalui mulut daun, dalam bentuk uap air. Pada malam hari, kelebihan air dikeluarkan melalui sel-sel pucuk daun. Proses ini disebut gutasi.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbv5XMKON2H-nLp1v7gjvepJ0CFaLGbAQ-SfEO-_vBvHo3EHIxwqCvj4wYEAqZ4vWJRP7h7_0ipXJwMWz_gnoTeTaxl00E7k-SBQj_L5rM_jUO16BdMd0tZZOC3fSndJtKV40rym5cAkIR/s1600/akar-1.jpg


4.      Alat Perkembangbiakan Vegatatif
      Bagi manusia, daun dapat digunakan sebagai bahan makanan, contohnya daun pepaya dan singkong; obat-obatan, contohnya daun jeruk dan jambu biji; rempah-rempah, contohnya daun salam jeruk. Pernahkah kamu diobati dengan menggunakan daun? Daun apakah yang dipakai?
Daun juga mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Bentuk daun dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu :
·         Bentuk bulat atau bundar : teratai besar.
·         Bentuk perisai : daun jarak.
·         Bentuk jorong : daun nangka dan nyamplungan.
·         Bentuk memanjang : daun sirkaya dan sirsak.
·         Bentuk lanset : daun kamboja.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsCjbv8uFnv6etfFTb50m2dzJMy4XCGWoFxALnB19oJ1K2suHTUJpdVTDqmjQUkUiUz1JfHH6QHkCgXDqkWvyuUYeOfME-pwDZ49Z3AXU9Ssz5RQInlM5kjQ93Iya8-AmyqLEUtNfUxv8R/s400/gbr-daun.jpg
Daun secara lengkap terdiri dari pelepah daun atau upih daun (vagina), tangkai daundan helai daun. Pada helai daun terdapat urat daun yang tidak lain adalah kelanjutan dari jaringan penyusun batang yang berfungsi menyalurkan hara atau produk fotosintesis.
Daun berdasarkan jumlah anak daun dalam 1 tangkai


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-jqOHv1KIBakoUhuCWpK_LozxXUYgj_uBAisqfAPzJmjudYp-bydiqtO1Ln8-sooBluhPzjRIXG_2RdwDR9w0waZiNXfyo_ireJPQRafo9UDkz-5SQ6xtrPCR4dyxsUt0WtNZf8pRWrNu/s320/BINAHONG.jpg




Daun tunggal
      Daun tunggal adalah daun yang memiliki satu helai daun di setiap tangkainya.Bagian dari batang yang menjadi tempat duduknya daun disebut nodus, dan sudut atas antara daun dan batang disebut ketiak daun.
Daun tunggal dapat mempunyai bagian-bagian daun yang berbeda antara golongan tumbuhan satu dengan yang lain. Daun yang mempunyai bagian pelepah atau upih daun(Vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina) disebut daun lengkap. Sedangkan daun yang tidak lengkap adalah daun yang hanya mempunyai sebagian dari daun lengkap.

Yang termasuk Daun yang tidak lengkap:
1.      Daun bertingkai, adalah daun yang hanya mempunyai tangkai dan helaian daun.
2.      Daun duduk, adalah daun yang hanya terdiri dari helaian daun saja.
3.      Daun berupih, adalah daun yang hanya mempunyai upih daun dan helaian daun. contohnya : daun rumput-rumputan
4.      Daun yang terdiri dari tangkai saja, biasanya daun yang seperti ini melebar menyerupai helaian daun dan disebut phyllodia. contohnya: daun Oxalis bupleurifolis

Daun Majemuk (Folium Coposiyum)

       Daun majemuk adalah daun yang memiliki beberapa helai daun di setiap tangkainya. 
yaitu jika pada tumbuhan tersebut, tangkainya terlihat bercabang cabang , dan baru pada cabang tangkai ini terdapat helaian daunnya.

Suatu daun majemuk dapat dipandang berasal dari suatu daun tunggal, yang torehnya sedemikian dalamnya, sehingga bagian daun diantara toreh-toreh itu terpisah satu sama lain, dan masing-masing merupakan suatu helaian kecil yang tersendiri.

Bagian-bagian daun majemuk dapat dibedakan sebagai berikut :
Ibu tangkai daun (potiolus communis), yaitu bagian daun majemuk yang menjadi tempat duduknya helaian-helaian daun, yang masing-masing disebut anak daun (foliolum). Ibu tangkai daun ini dapat dipandang sebagai penjelmaan tangkai daun tunggal, ditambah dengan ibu tulangnya, oleh sebab itu kuncup ketiak pada tumbuhan yang mempunyai daun majemuk, letaknya juga diatas pangkal ibu tangkai pada batang.
Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang mendukung anak daun. Bagian ini dapat dianggap sebagai penjelmaan pangkal suatu tulang cabang pada daun tunggal. Oleh sebab itu, di dalam ketiaknya tidak pernah diketemukan sebuah kuncup.
Anak daun (foliolum). Bagian ini sesungguhnya adalah bagian helaian daun yang karena dalam dan besarnya toreh, menjadi terpisah-pisah. Anak daun pada suatu daun majemuk lazimnya mempunyai tangkai yang pendek atau hampir duduk pada ibu tangkai, misalnya pada daun selderi (Apium graveolens L.). Adakalanya anak daun mempunyai tangkai yang cukup panjang dan jelas kelihatan, misalnya pada daun mangkokan (Nothoponax scutellarium Merr).
Karena daun majemauk dapat dipandang berasal dari daun tunggal, pada daun majemuk dapat pula kita temukan bagian-bagian lain, seperti pada daun tunggal, misalnya : Upih Daun (vagina), yaitu bagian dibawah ibu tangkai yang lebar dan biasanya memeluk batang, seperti dapat kita lihat pada daun pinang (Area catechu L).
Sama halnya dengan daun tunggal, pada pangkal ibu tangkai daun mejemuk atau di dekat pangkal ibu tangkai itu, dapat pula ditemukan sepasang daun penumpu, seperti misalnyapada daun mawar (Rosa sp.), yang berupa dua daun kecil melekat pada daun kiri pangkal ibu tangkai daun , dan pada daun kacang kapri (pisum sativum L.), yang disini merupakan sepasang daun yang lebar dan ikut serta menunaikan tugas daun sebagai alat untuk berasimilasi.
pada daun majemuk, semua anak daun terjadi bersama-sama dan biasanya gugur juga bersama-sama pula, sedangkan cabang dengan daun-daun tunggal mempunyai daun yang tak sama umur maupun besarnya, dan tentu saja daun-daun tadi, tidak runtuh bersama-sama pula.
seperti halnya pada daun tunggal, pertumbuhan daun majemuk, juga terbatas, artinya tidak bertambah panjang lagi dan ujungnya tidak mempunyai kuncup. Suatu cabang, biasanya selalu bertambah panjang dan mempunyai sebuah kuncup diujungnya.
pada daun majemuk tidak terdapat kuncup dalam ketiak anak daun, sedang pada suatu cabang, biasanya dalam ketiak daunnya terdapat satu atau mungkin lebih dari satu kuncup.


Meskipun demikian, selalu ada hal-hal yang jika kurang saksama pemeriksaannya, dapat menyesatkan, seperti misalnya pada pohon cerme (Phyllanthus acidus Skeels)dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Kedua pohon ini mempunyai daun majemuk, tetapi daun majemuk ini sampai agak lama, masih memperlihatkan pertumbuhan memanjang, sehingga anak daunnya mempunyai umur yang berbeda.  Sering terlihat anak daun pada pangkal ibu tangkai sudah runtuh, sedang pada ujungnya masih ada anak daun yang kelihatan segar (masih hijau).

      Pada tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L.) dan kartu (Sauropus androgynus Merr.) terdapat cabang-cabang dengan daun tunggal yang berseling, yang tumbuh mendatar dari batang pokok, dan terbatas pertumbuhannya atau (tidak bertambah panjang lagi). Cabang-cabang berdaun ini sering dianggap sebagai daun majemuk, tetapi ternyata salah karena dari ketiak-ketiaknya, pada waktu-waktu tertentu, akan tampak keluar bunga yang kemudian jadi buah pula. 
Jika itu daun majemuk, tidak mungkin akan ditemukan bunga atau buah.

      Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
1.      Daun majemuk menyirip (pinnatus)
2.      Daun majemuk menjari (palmatus),
3.      Daun majemuk bangun kaki  (pedatus)
4.      Daun majemuk campuran (digitato pinnatus)

Daun majemuk menyirip (pinnatus)

      Daun majemuk menyirip ialah daun majemuk yang anak daunnya terdapat dikanan kiri ibu tangkai daun. Jadi tersusun seperti sirip pada ikan. Daun majemuk menyirip dapat dibedakan lagi menjadi beberapa macam :
Daun majemuk menyirip beranak daun satu (unifoliolatus).  Tanpa penyelidikan yang teliti, daun ini tentu akan disebut sebagai daun tunggal, tetapi di sini tangkai daun memperlihatkan suatu persendian (articulatio), jadi helaian daun tidak langsung terdapat pada ibu tangkai.

Sesungguhnya pada daun ini, juga terdapat lebih dari satu helaian daun, hanya saja yang lain-lainnya telah tereduksi, sehingga tinggal satu anak daun saja. Daun yang demikian ini biasanya kita dapati pada berbagai jenis pohon jeruk, seperti jeruk besar (citrus maximo Merr.) jeruk nipis (citrus aorantifolia Sw.), dan lain-lain.
Daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus). Biasanya disini terdapat sejumlah anak daun yang berpasang-pasangan dikanan kiri ibu tulang, oleh sebab itu jumlah anak daunnya biasanya lalu menjadi genap. 
Akan tetapi, mengingat pada suatu daun majemuk menyirip, anak-anak daun tidak selalu berpasang-pasangan, maka untuk menentukan apakah suatu daun majemuk menyirip genap atau tidak, orang tidak lagi menghitung jumlah anak daun, tetapi melihat kepada ujung ibu tangkainya.

Jika ujung ibu tangkai terputus, artinya pada ujung ibu tangkai tidak terdapat suatu anak daun, sehingga ujung ibu tangkai bebas. 
Atau kadang-kadang tertutup oleh suatu pucuk kecil yang mudah runtuh, maka hal itu berarti bahwa daun yang menyirip genap.
Dengan keterangan ini jelaslah, bahwa satu daun majemuk menyirip genap mungkin mempunyai jumlah anak daun yang gasal. Daun majemu menyirip genap antara lain terdapat pada pohon asam (tamarindus indica L.) yang anak daunnya berpasang-pasangan, jadi jumlah anak daun benar-benar genap. 
Daun majemuk menyirip genap, tetapi jumlah anak daunnya gasal dapat kita jumpai misalnya pada pohon leci (litcichinensis sonn.) dan kepulasan (Nepphelium mutabile B.)
Daun majemuk menyirip gasal (imparipinnatus), disini yang menjadi pedoman ialah ada atau tidaknya satu anak daun yang menutup ujung ibu tangkainya. Ditinjau dari jumlah anak daunnya akan kita dapati bilangan yang benar-benar gasal, jika anak daun berpasangan, sedang diujung ibu tangkai, terdapat anak daun yang tersendiri (biasanya anak daun ini lebih besar daripada yang lainnya ), seperti dapat dilihat pada daun pacar Cina (Aglaia odorata Lour) dan mawar (Rosa sp.). 
Sebagai kebalikan daun majemuk menyirip genap yang dapat mempunyai jumlah anak daun yang gasal. Daun majemuk menyirip gasal dapat pula mempunyai jumlah anak daun yang genap. Seperti sering kita temukan pada pohon pacar Cina tersebut diatas.

      Selain dari itu, daun majemuk menyirip dapat pula dibedakan menurut duduknya anak-anak daun pada ibu tangkai, dan juga menurut besar kecilnya anak-anak daun yang terdapat pada satu ibu tangkai.
Daun Majemuk menyirip dengan anak daun yang berpasang-pasangan, yaitu jika duduknya anak daun pada ibu tangkai berhadap-hadapan.
Menyirip berseling, jika anak daun pada ibu tangkai duduknya berseling.
Menyirip berselang seling (interrupte pinnatus), yaitu jika anak-anak daun pada ibu tangkai berselang-seling pasangan anak daun yang lebar dengan pasangan anak daun yang sempit, misalnya pada anak daun tomat (solanum lycopersicum L.)

Daun Majemuk Ganda
Pada daun majemuk dapat pula terlihat, bahwa anak daun tidak langsung duduk pada ibu tangkainya, melainkan pada cabang ibu tangkai tadi. Dalam hal demikian, dan majemuk lalu dinamakan daun majemuk rangkap atau daun majemuk ganda. Biasanya hanya daun majemuk menyiriplah yang dapat mempunyai sifat demikian, oleh sebab itu pula kalau ada daun majemuk ganda, maka biasanya adalah daun majemuk yang menyirip.

       Daun majemuk menyirip ganda dapat dibedakan menurut letak anak daun pada cabang tingkat beberapa dari ibu tangkainya. Dengan demikian daun majemuk menyirip ganda dapat dibedakan dalam :
1.      majemuk menyirip ganda dua (bipinnatus), jika anak daun duduk pada cabang tingkat satu ibu tangkai,
2.      majemuk menyirip ganda tiga (tripinnatus), jika anak – anak daun duduk pada cabang tingkat dua dari ibu tangkai, majemuk menyirip ganda empat, dst
pada umumnya jarang dapat ditemukan daun yang menyirip ganda lebih dari tiga.
Daun menyirip ganda dibedakan lagi dalam :
1.      Daun menyirip ganda sempurna , yaitu jika tidak ada satu anak daunpun yang duduk pada ibu tangkai.
2.      Daun menyirip ganda tidak sempurna, jika masih ada anak daun yang duduk langsung pada ibu tangkainya. 

Yang menyirip ganda tidak sempurna biasanya hanyalah daun majemuk yang menyirip gasal saja, sedangkan daun menyirip ganda sempurna, biasanya menyirip genap.
Berikut diberikan beberapa contoh daun yang menyirip ganda : 
a. daun majemuk menyirip genap dua dengan sempurna, misalnya daun kembang merak (Caesalpina pulcherrima Sw.) dan daun lamtoro (leucaena glauca Benth)
b. daun majemuk menyirip gasal ganda dua daun tidak sempurna, misalnya daun kirinyu (Sambucus javanica Bl.)
c. daun majemuk menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna, misalnya daun kelor (Moringa oleifera lamk)


Daun majemuk menjari (palmatus atau digitatus)
      Daun majemuk menjari ialah daun majemuk yang semua anak daunnya tersusun memencar pada ujung ibu tangkai seperti letaknya jari-jari pada tangan.
Mengenai daun majemuk menjari ini tidak ada hal-hal yang begitu rumit seperti pada daun majemuk yang menyirip.
Berdasarkan jumlah anak daunnya, daun majemuk menjari dapat dibedakan seperti berikut :
Beranak daun dua (bifoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat dua anak daun, misalnya daun nam-nam (cynometra caulifora L.)
Beranak daun tiga (trifoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat tiga anak daun, misalnya pada pohon para (heveabrasiliensis Mueli)
Catatan daun majemuk yang beranak daun tiga, dapat pula kita jumpai pada daun majemuk yang menyirip, misalnya pada kacang panjang (Vigna sinensis Endl). Untuk membedakan apakah majemuknya menyirip atau menjari, harus diteliti benar mengenai titik pertemuan ketiga tangkai anak daunnya. Jika semua bertemu pada satu titik (ujung ibu tangkai), berarti menjari, jika tidak, menyirip. (Bandingkanlah dengan saksama daun para dengan daun kacang panjang)
Beranak daun lima (quinquefoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat lima anak daun, misalnya daun maman (Gynandropsis pentandra Gaertn).
Jika daun majemuk menjari mempunyai tujuh anak daun atau lebih, maka dapat dikatakan saja beranak daun banyak (Polyfoliolatus), tidak usah lagi dihitung jumlah anak daun yang tepat, seperti misalnya pada daun randu (Ceiba pentandra Gaerthn).
Seperti halnya dengan daun majemuk menyirip, yang menyiripnya dapat bersifat ganda, maka pada daun majemuk menjari, juga dapat bersifat ganda, misalnya :
pada daun majemuk menjari beranak daun tiga ganda dua (biternatus). Contoh :Aegopodium dan Aquilegia vulgaris.
Daun majemuk bangun kaki (Pedatus)
 Daun ini mempunyai susunan seperti daun majemuk menjari, tetapi dua anak daun yang paling pinggir tidak duduk pada ibu tangkai, melainkan pada tangkai anak daun yang disampingnya, seperti terdapat pada Arisaema filiforme (Araceae).
Daun majemuk campuran
      Daun majemuk campuran adalah suatu daun majemuk ganda yang mempunyai cabang – cabang. Pada ibu tangkai, terdapat anak-anak daun yang tersusun menyirip.   Contoh   daun   majemuk campuran adalah daun sikejut (Mimosa pudica L.)
Tetapi, jika diteliti benar, ternyata daun sikejut bukanlah merupakan daun majemuk campuran sejati, tetapi adalah daun majemuk menyirip genap atau ganda dua yang sempurna. Hanya saja pada daun ini, letak kedua pasang cabang ibu tangkainya, sedemikian dekat satu sama lain, hingga seakan–akan terdapat empat cabang tangkai pada ujung ibu tangkai daunnya.















plant tissue




A. JARINGAN TUMBUHAN
   Jaringan-jaringan pada tumbuhan ada yang bersifat meristematis, yaitu jaringan muda yang masih aktif membelah dan ada juga yang bersifat permanen, yaitu jaringan dewasa yang tidak membelah.

1. Jaringan Meristem
   Jika diperhatikan, tumbuhan dewasa tidak langsung menjadi besar dengan tiba-tiba. Pertumbuhannya dimulai dari kecil, kemudian seiring bertambahnya waktu, maka dia akan bertambah besar. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Ketika belajar di SMP/MTs, Anda pernah mendapatkan materi pelajaran tentang jaringan meristem. Coba ingat kembali tentang jaringan meristem itu!
Untuk membuktikan kerja dari jaringan meristem tumbuhan, Anda dapat mengamati tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau lingkungan! Jika Anda amati, ternyata tanaman itu semakin hari akan bertambah tinggi atau panjang dan besar. Tahukah Anda, apakah penyebabnya? Pertumbuhan tinggi dan besar ini disebabkan adanya aktivitas pembelahan pada jaringan tumbuhan. Jaringan yang aktif membelah ini disebut jaringan meristem.
Jaringan meristem mempunyai sifat-sifat antara lain, terdiri atas sel-sel muda dalam fase pembelahan dan pertumbuhan. Pada jaringan meristem, biasanya tidak ditemukan adanya ruang antarsel, di antaranya sel-sel meristem. Sel-sel meristem berbentuk bulat, lonjong atau poligonal dengan dinding sel yang tipis. Masing-masing selnya mengandung banyak sitoplasma dan mengandung satu atau lebih inti sel. Vakuola sel pada sel-sel meristem sangat kecil dan kadang-kadang tidak ada.
Meristem dikelompokkan berdasarkan berbagai kriteria, antara lain berdasarkan letaknya dan terjadinya. Untuk selanjutnya akan dibahas pada uraian di bawah ini.
   Berdasarkan letaknya, meristem dibedakan sebagai berikut.
a. Meristem Ujung (Apikal)
   Meristem ujung (apikal) merupakan jaringan muda yang terbentuk oleh sel-sel initial yangberada pada ujung-ujung dari alat-alat tumbuhan. Dengan adanya meristem ini, tumbuhan dapat bertambah tinggi dan panjang. Meristem ini dapat Anda lihat pada Gambar 2.2.



b. Meristem Samping (Lateral)
   Meristem lateral merupakan jaringan muda yang terbentuk oleh selsel initial yang terletak antara bagian alat-alat tumbuhan (antara jaringanjaringan dewasa). Akibat aktivitas meristem ini tumbuhan akan mengalami penambahan besar ke samping. Coba Anda sebutkan tumbuhan apa saja di sekitar Anda yang dapat mengalami pertumbuhan membesar pada batangnya. Agar lebih jelas, perhatikan Gambar 2.3!

Berdasarkan terjadinya, jaringan meristem dibedakan menjadi dua.

a. Meristem Primer
   Meristem primer merupakan jaringan muda yang berasal dari sel-sel initial yang disebut promeristem. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Haberlandt, promeristem akan berkembang menjadi protoderm, prokambium, dan meristem dasar. Protoderm akan berdeferensiasi menjadi jaringan epidermis, prokambium akan berdeferensiasi menjadi sistem jaringan pengangkut, sedangkan meristem dasar akan berkembang menjadi parenkim (jaringan dasar).
   Meristem primer terletak pada ujung akar dan ujung batang tumbuhan. Menurut Hanstein, pada bagian ujung akar dibagi menjadi tiga daerah, yaitu :


1.      dermatogen yang akan berkembang menjadi epidermis;
2.      periblem yang akan berkembang menjadi korteks;
3.      pleron yang akan berkembang menjadi stele.
   Meristem pada ujung batang menurut Schmidt dibagi menjadi dua bagian.

1) Korpus
   Bagian ini merupakan bagian pusat dari titik tumbuh, yang memiliki area yang luas dan sel-selnya relatif besar. Sel-sel pada bagian korpus ini akan membelah secara tak beraturan.

2) Tunika
 Bagian ini merupakan bagian paling luar dari titik tumbuh. Tunika terdiri atas satu atau beberapa lapis sel, dengan sel-sel yang relatif kecil dan mengalami pembelahan ke samping (ke arah lateral).

b. Meristem Sekunder
   Meristem ini berasal dari jaringan dewasa dan selanjutnya berubah menjadi meristematis. Sel-sel meristem sekunder berbentuk pipih atau prisma yang di bagian tengahnya terdapat vakuola. Contohnya, kambium dan kambium gabus. Kambium dijumpai di dalam batang dan akar dari tumbuhan golongan dikotil dan Gymnospermae, serta beberapa tumbuhan dari golongan monokotil (Agave, Aloe, Jucca, dan Draceana). Kambium gabus terdapat pada kulit batang tumbuhan dan dapat membentuk jaringan gabus yang sukar dilalui air.
2. Jaringan Permanen/Dewasa
   Jaringan permanen (dewasa) merupakan jaringan yang tidak aktif membelah lagi dan sudah mengalami diferensiasi. Jaringan ini mempunyai ukuran yang relatif besar dibandingkan sel-sel meristem. Jaringan permanen memiliki vakuola yang besar sehingga plasma sel sedikit dan merupakan selaput yang menempel pada dinding sel. Sel-selnya telah mengalami penebalan dinding sesuai dengan fungsinya, dan di antara sel-selnya dijumpai ruang antarsel.

a. Epidermis
   Jaringan epidermis ini berada paling luar pada alat-alat tumbuhan primer seperti akar, batang daun, bunga, buah, dan biji. Epidermis tersusun atas satu lapisan sel saja. Bentuknya bermacam-macam, misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau menampakkan bentuk lain. Epidermis tersusun sangat rapat sehingga tidak terdapat ruanganruangan antarsel. Epidermis merupakan sel hidup karena masih mengandung protoplas, walaupun dalam jumlah sedikit. Terdapat vakuola yang besar di tengah dan tidak mengandung plastida.

   Penebalan-penebalan yang terjadi pada membran sel epidermis biasanya merupakan penebalan sekunder yang terdiri atas selulosa yang berwujud sebagai garis-garis lamela. Pada tanaman kering (xerophita), penebalan tidak hanya mengandung selulosa saja, tetapi juga mengandung zat kitin. Selain itu, pada membran sel yang saling berhadapan dengan udara lingkungannya, umumnya penebalan semakin tebal karena adanya lapisan kutikula sehingga sel-sel epidermisnya menjadi sulit untuk dilalui air dan penguapan menjadi terbatas. Pada tumbuhan air (hidrophita), membran selnya tidak mengandung zat kitin maupun kutikula, kadang-kadang mengandung lemak dan damar.
Pada tumbuhan tertentu, lapisan epidermis selain mengandung kutikula juga mengandung lapisan lilin yang tidak dapat ditembus air. Pada tumbuhan golonganGramineae, Cyperaceae, Equistinae, memiliki permukaan yang keras dan kaku. Ini disebabkan adanya zat-zat karbonat dan kersik pada sel-sel epidermis. Pada tumbuhanFicus elastica terdapat hidrodermis yang bisa berfungsi sebagai tempat penyimpanan air.
 Sel-sel initial epidermis sebagian dapat berkembang menjadi alat-alat tambahan lain yang sering disebut derivat epidermis, seperti stomata, trikoma, dan sel kipas.

1) Stomata
   Stomata adalah celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan. Pada semua tumbuhan yang berwarna hijau, lapisan epidermis mengandung stomata paling banyak pada daun. Stomata terdiri atas bagian-bagian yaitu sel penutup, bagian celah, sel tetangga, dan ruang udara dalam. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah. Sel penutup dapat terletak sama tinggi dengan permukan epidermis (panerofor) atau lebih rendah dari permukaan epidermis (kriptofor) dan lebih tinggi dari permukaan epidermis (menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup biasanya berbentuk seperti ginjal bila dilihat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumput-rumputan memiliki struktur khusus dan seragam dengan sel penutup berbentuk seperti halter dan dua sel tetangga terdapat masing-masing di samping sebuah sel penutup. Untuk memahami struktur stomata, Anda dapat melihatnya pada Gambar 2.5!

Tipe stomata pada dikotil berdasarkan susunan sel epidermis yang berdekatan dengan sel tetangga ada 5
yaitu sbb:
1. Anomositik/Ranunculaceous yaitu sel  penutup dikelilingi oleh sejumlah sel tertentu yang tidak berbeda dengan epidermis yang lain dalam bentuk maupun ukurannya. Terdapat padaRanunculaceae,  Capparidaceae,
Cucurbitaceae dll.

2. Anisositik/Cruciferous yaitu setiap sel penutup dikelilingi oleh 3 sel tetangga yang ukurannya tidak sama, terdapat pada Cruciferae, Solanaceae

3. Parasitik/Rubiaceous yaitu tiap sel penjaga bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga, sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel tetangga dan apertur ,terdapat pada Rubiaceae dan Magnoliaceae.

4. Diasitik/Cariophyllaceus yaitu  setiap sel penutup dikelilingi oleh dua sel tetangga dengan dinding sel yang membentuk sudut siku-siku terhadap sumbu membujur stoma, terdapat pada Cariophyllaceae dan Acanthaceae.

5. Aktinositik yaitu setiap sel penutup dikelilingi oleh sel tetangga yang menyebar dalam radius


2) Trikoma
   Trikoma terdiri atas sel tunggal atau banyak sel. Struktur yang menyerupai trikoma, tetapi tidak besar dan terbentuk dari jaringan epidermis atau di bawah epidermis disebut emergensia, sedangkan apabila terbentuk dari jaringan stele disebut spina.
   Peranan trikoma bagi tumbuhan, antara lain sebagai berikut.
 -  Pada daun untuk mengurangi penguapan, mengurangi gangguan hewan dan manusia, meneruskan rangsang.
-          Pada bunga (nektaria) mengeluarkan madu untuk menarik serangga membantunpenyerbukan.
-          Pada biji untuk mencegah gangguan serangga yang akan merusak biji, menyerap air sehingga biji menjadi lekas berkecambah dan tumbuh.
-          Pada batang untuk mjengurangi penguapan dan untuk memanjat (kaktus, rotan).

   Trikoma dibedakan menjadi dua, yaitu :
a) Trikoma Glanduler
   Trikoma glanduler merupakan trikoma yang dapat menghasilkan sekret. Trikoma glanduler dapat bersel satu atau banyak. Tumbuhan yang memiliki trikoma glanduler, contohnya, tembakau (Nicotiana tabacum) yang terletak pada daunnya.
Macam-macam trikoma glanduler antara lain:
1.      trikoma hidatoda, terdiri atas sel tangkai dan beberapa sel kepala dan mengeluarkan larutan yang berisi asam organik;
2.      kelenjar madu, berupa rambut bersel satu atau lebih dengan plasma yang kental dan mampu mengeluarkan madu ke permukaan sel permukaan sel;
3.      kelenjar garam terdiri atas sebuah sel kelenjar besar dengan tangkai yang pendek.
4.      Rambut gatal, berupa sel tunggal dengan pangkal berbentuk kantong dan ujung runcing. Isi sel menyebabkan rasa gatal.

b) Trikoma Nonglanduler
   Trikoma ini tidak menghasilkan sekret. Macam-macam Trikoma nonglanduler, antara lain:
1. Rambut uniselular sederhana atau multiselular uniseriat, yang tidak memipih, umum dijumpai pada Lauraceae, Moraceae, Triticium, Hordeum, Pelargonium, dan Gossypium.
2. Rambut skuamiform (bentuk sisik) yang multiselular dan memipih nyata sekali. Contohnya pada Olea dan Cruciferae.
3. Rambut multiselular yang dapat berbentuk bintang atau tempat lilin bercabang. Misalnya pada Styrak, Platanus, dan Verbacum.
4. Rambut kasar, trikoma kasar berserat, yang dipangkalnya terdiri atas sedikitnya dua atau lebih deretan sel yang berdampingan.
pada daun  Hibiscus tiliaceus terlihat adanya trikoma. trikoma adalah rambut-rambut yang merupakan turunan/ derivat dari epidermis. pada daun Hibiscus tiliaceus (waru) yang saya amati, trikoma yang terlihat adalah jenis rambut bercabang dan tidak menghasilkan sekret.


   Untuk memahami struktur trikoma, perhatikan Gambar 2.6!
3.      Sel kipas


b. Parenkim
   Untuk mengamati jaringan parenkim, gunakan preparat yang telah Anda buat pada Kegiatan Kelompok 1. Tentukan letak jaringan parenkim! Bagaimanakah bentuk dan susunan selnya?Apakah parenkim mempunyai kloroplas? Identifikasikan ciri-ciri dari jaringan parenkim! Gambarlah jaringan parenkim tersebut dan bandingkan dengan Gambar 2.7!



   Parenkim merupakan jaringan yang terbentuk atas sel hidup. Jaringan parenkim disebut juga jaringan dasar karena hampir pada setiap tumbuhan akan terdapat parenkim. Jaringan parenkim terdapat pada jaringanjaringan lain. Selain itu, jaringan parenkim disebut juga jaringan pemula karena pada tumbuhan primitif tubuhnya hanya terdiri atas sel-sel parenkim.

   Jaringan parenkim memiliki membran sel yang tipis dan jarang mengandung lignin. Sel ini masih melakukan aktivitas hidup dan mempunyai vakuola yang berisi zat makanan. Jaringan parenkim memiliki kloroplas dan berbentuk poligonal dengan banyak ruang antarsel untuk pertukaran udara. Selain membentuk jaringan sederhana, sel parenkim merupakan komponen dari dua jaringan kompleks, yaitu xilem dan floem.
   Beberapa organ tubuh tumbuhan yang mengandung jaringan parenkim adalah sebagai berikut.
1) Batang
   Jaringan parenkim pada batang terdapat pada empulur dan di antara epidermis dan pembuluh angkut.
2) Akar
   Jaringan parenkim pada akar juga terletak di antara epidermis dan pembuluh angkut sebagai korteks.
3) Mesofil daun
   Jaringan parenkim pada mesofil daun kadang-kadang berdiferensiasi menjadi jaringan tiang dan bunga karang.
4) Pembentuk daging buah
5) Pembentuk endosperma
   Jaringan parenkim dibedakan berdasarkan fungsi dan bentuknya.
Macam-macam jaringan parenkim berdasarkan fungsinya, antara lain seperti berikut.
1) Parenkim Asimilasi (Klorenkim)
   Parenkim asimilasi banyak mengandung klorofil sehingga dapat bermanfaat untuk proses fotosintesis.
2) Parenkim Udara (Aerenkim)
   Pada parenkim udara terdapat ruang antarsel, fungsinya adalah untuk aerasi atau pertukaran gas pada tanaman air, yaitu untuk mengapung pada permukaan air.
3) Parenkim Air
   Parenkim air berfungsi untuk menyimpan air. Parenkim ini dijumpai pada tumbuhan xerofit dan epifit. Contohnya, parenkim yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan Agave dan Aloe.
4) Parenkim Makanan
   Parenkim ini berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan. Bisa terdapat pada akar, umbi, buah, dan batang. Makanan cadangan tersebut dapat berbentuk zat-zat padat, misalnya tepung, protein, lemak, dan tetestetes minyak
5) Parenkim Pengangkut
   Jaringan parenkim pengangkut berguna sebagai alat pengangkut yang menghubungkan jaringan-jaringan sebelah luar dan dalam yang disebut dengan parenkim jari-jari empulur.
   Berdasarkan bentuknya, parenkim dibedakan menjadi empat.

1.      Parenkim palisade, merupakan parenkim penyusun mesofil, kadang pada biji berbentuk sel panjang, tegak, mengandung banyak kloroplas.
2.      Parenkim bunga karang, juga merupakan parenkim penyusun mesofil daun. Bentuk dan ukuran parenkim ini tak teratur dengan ruang antarsel yang lebih besar.
3.      Parenkim bintang, berbentuk seperti bintang bersambungan ujungnya misalnya pada tangkai daun Canna sp.
4.      Parenkim lipatan, dinding selnya mengadakan lipatan ke arah dalam serta banyak mengandung kloroplas. Misalnya pada mesofil daun pinus dan padi.
   Coba perhatikan bagian-bagian jaringan parenkim pada Gambar 2.8 berikut!



c. Jaringan Penunjang (Mekanik)

   Coba perhatikan pohon berbatang besar dan tinggi yang ada di sekitar lingkungan Anda! Misalnya, pohon jambu air, mangga, nangka, dan sebagainya. Walaupun ada angin menerpa, batang pohon tersebut tetap berdiri tegak. Pada saat musim kemarau, pohon-pohon itu masih bisa berdiri tegak dan kuat walaupun saat itu kandungan air berkurang. Mengapa bisa demikian? Itu disebabkan pada tumbuhan tersebut terdapat jaringan mekanik.
 Jaringan mekanik berfungsi untuk kekuatan pada tumbuhan tingkat tinggi. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang berbatang besar dan tinggi, pengaruh kekurangan kandungan air pada sel-selnya dapat diatasi dengan adanya jaringan mekanik ini, sehingga tumbuhan tetap tegak tanpa mengalami kelayuan, bahkan pada pohon yang berbatang kecil pun walaupun kekurangan air dan diterpa angin akan tetap kokoh berdiri dan tidak layu karena adanya jaringan mekanik ini. Pada tumbuhan tingkat rendah yang belum terdapat jaringan mekanik, maka sebagai penguat tubuhnya adalah tekanan turgor atau tekanan dinding selnya.
Sesuai dengan fungsinya sebagai penguat tubuh tumbuhan, maka jaringan mekanik ini memiliki dinding sel yang tebal, mengandung lignin, dan zat-zat lainnya yang memberi sifat keras pada dinding sel.
Jaringan mekanik dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Kolenkim

   Untuk memahami struktur kolenkim, Anda masih bisa menggunakan preparat pada Kegiatan Kelompok 1. Coba tentukan letak jaringan kolenkim tersebut! Bagaimana bentuk dan susunan selnya? Identifikasikan ciri-cirinya dan gambarlah struktur sel kolenkim tersebut! Bandingkan dengan Gambar 2.9 Contoh dari penampang melintang dan membujur tumbuhan Solanum tuberasum.


   Jaringan kolenkim terjadi dari prokambium. Jaringan ini terdapat pada organ tumbuhan yang masih aktif mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan selnya tidak memiliki lignin dan tersusun atas satu macam sel yang mengandung kloroplas, sehingga kolenkim bisa berfungsi untuk fotosintesis. Bila sel ini dilihat dengan mikroskop, terlihat bahwa dinding selnya jernih, putih, mengkilat.
Jaringan kolenkim terdapat pada organ tumbuhan, terutama pada golongan dikotil yaitu pada bagian daun, batang, dan bunga. Jarang terdapat pada bagian akar yang berada dalam tanah. Hanya kadang-kadang tumbuhan yang akarnya menjulang di atas tanah didapati jaringan kolenkim. Pada beberapa golongan tumbuhan monokotil, jaringan kolenkim tidak terdapat pada jaringan batang maupun daunnya, hal ini disebabkan karena yang berkembang lebih dahulu adalah jaringan mekanik yang berupa jaringan sklerenkim. Letak jaringan yaitu pada jaringan perifer, tepat di bawah epidermis daun dan batang.
Bentuk sel kolenkim ada yang panjang dan pendek. Sel yang pendek berbentuk seperti prisma, sedangkan yang panjang bentuknya hampir mirip dengan serat-serat dengan ukuran ± 2 mm. Dinding sel kolenkim mengalami penebalan-penebalan setempat berupa zat pektin.

   Berdasarkan letak penebalannya, kolenkim dibedakan menjadi empat.

Tabel 2.1 Macam-Macam Kolenkim
No
Macam Kolenkim
Keterangan
1
Kolenkim Sudut(angular).
Penebalan berlangsung pada bagian-bagian sudutnya, dan memanjang mengikuti sumbu sel. Contohnya, pada tangkai daunVitis sp, Begonia sp, Solanum tuberosum.
2
Kolenkim Papan(lamellar)
Penebalan terjadi pada dinding sel yang tangensial(Sejajar permukaan organ), sehingga pada irisan melintang terlihat seoerti papan yang berderet-deret. Contohnya pada kortek batang Sambucus javanica.
3
Kolenkim tubular(lakuna).
Terdapat pada kolenkim yang mempunyai ruang-ruang antar sel dan penebalan-penebalannya terjadi pada permukaan ruang-ruang antar sel tersebut. Contohnya, pada tangkai daunsalvina, malva dan althae.
4
Kolenkim tipe cincin
Pada penampang lintang lumen sel berbentuk lingkaran. Pada waktu menjelang dewasa telihat bahwa karena pada tipe sudut penebalan bersambungan pada dinding sel, maka lumen tidak menyudut lagi.

   Untuk memahami tipe-tipe kolenkim seperti dijelaskan di atas dapat Anda perhatikan Gambar 2.10!


2) Sklerenkim
   Gunakan pula Kegiatan Kelompok 1 untuk mengamati struktur sklerenkim. Coba tentukan letak sklerenkim! Bagaimana bentuk dan susunan selnya? Perhatikan, apakah sklerenkim itu merupakan sel hidup atau sel mati! Identifikasi ciri-ciri sklerenkim tersebut, kemudian gambarlah strukturnya! Bandingkan dengan gambar sklerenkim yang benar pada Gambar 2.11!
eceng gondok




   Jaringan sklerenkim merupakan jaringan mekanik yang hanya terdapat pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan atau organ tumbuhan yang telah tetap. Sklerenkim berfungsi untuk menghadapi segala tekanan sehingga dapat melindungi jaringan-jaringan yang lebih lemah.
Sklerenkim tidak mengandung protoplas, sehingga sel-selnya telah mati. Dinding selnya tebal karena berlangsung penebalan sekunder sebelumnya yang terdiri atas zat lignin. Jaringan sklerenkim dibedakan menjadi dua.

a) Serat-Serat Sklerenkim (Fibers)
            Serat-serat sklerenkim terdiri atas sel-sel yang berukuran panjang ± 2 mm dan samping yang ujungnya runcing. Serat-serat sklerenkim merupakan sel-sel yang sudah mati.
             Dinding selnya mengalami penebalan dari zat kayu dan mengandung lamela-lamela selulosa sehingga lumen selnya sempit. Serat ini berbentuk poligon, yaitu segi lima atau segi enam. Noktah-noktahnya sempit yang berbentuk bagai saluran-saluran sempit miring. Serat-serat sklerenkim pada tumbuh-tumbuhan terbentuk bersamaan dengan saat-saat terhentinya pertumbuhan organ-organ pada tumbuhan.
Serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian yang terpisah-pisah atau dalam bentuk lingkaran di dalam korteks dan floem, dalam kelompok-kelompok yang tersebar dalam xilem dan floem. Pada Gramineae, serat-serat sklerenkim tersusun dalam suatu sistem berbentuk lingkaran berlekuk-lekuk yang dihubungkan dengan epidermis. Untuk lebih jelas, perhatikan Gambar 2.12.


   Ada dua macam jenis serat sklerenkim, yaitu sebagai berikut.
(1)   Serat di Luar Xilem (Ekstraxilari)
Serat ekstraxilari ada yang berlignin dan ada pula yang tidak. Serat ini dapat digunakan untuk membuat tali, karung goni, dan bahan dasar tekstil untuk pakaian.
(2)   Serat Xilem (Xilari)
Jenis serat ini merupakan komponen utama kayu karena dindingnya mengandung lignin yang menyebabkan dindingnya keras dan kaku.

b) Sel-Sel Batu (Sklereid)
   Sklereid terdapat pada bagian tumbuhan, antara lain di dalam korteks, floem, buah, dan biji. Dinding sklereid tersusun atas selulosa yang mengandung zat lignin yang tebal dan keras. Pada beberapa tumbuhan, kadang-kadang ditemukan pula zat suberin dan kutin. Sel-selnya mempunyai noktah yang sempit dan celahnya bundar, membentuk saluran yang disebut saluran noktah. Lumen sel sangat sempit karena adanya penebalan-penebalan dinding sel.
   Sklereid mungkin bisa dijumpai dalam bentuk tunggal atau kelompok kecil di antara sel-sel, misalnya butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji atau suatu masa sinambung seperti pada tempurung kelapa yang keras. Untuk memahami struktur sel-sel batu ini, perhatikan Gambar 2.13 berikut ini!

XYLEM AND PHLOEM
Xylem

·                     Yang merupakan karakteristik sel – sel xylem adalah berkas pengangkut dan trakeid yang memiliki dinding sel tebal mengandung lignin dan merupakan pengangkut air.
·                     Trakeid berbentuk memanjang, serupa dengan serat tapi berdiameter lebih besar.
·                     Pada penampang melintang berkas pengangkut tampak besar dan bulat pada jaringan xylem.


·                     Jado fungsi xilem adalah sebagai tempat pengangkutan air dan zat-zat mineral dari akar ke bagian daun.
·                     Susunan xilem ini merupakan suatu jaringan pengangkut yang kompleks, terdiri atas berbagai bentuk sel.
·                     Selain itu, sel-selnya ternyata ada yang telah mati dan ada pula yang masih hidup, tetapi pada umumnya sel-sel penyusun xilem telah mati dengan membran selnya yang tebal dan mengandung lignin sehingga fungsi xilem juga sebagai jaringan penguat.
Unsur-unsur utama xilem adalah sebagai berikut.
1.      Trakeid
2.      Trakea (Komponen Pembuluh)
3.      Parenkim Xilem

1.      Trakeid

·                     Susunan sel trakeid terdiri atas sel-sel yang sempit, dalam hal ini penebalan-penebalan pada dindingnya ternyata berlangsung lebih tebal jika dibandingkan dengan yang telah terjadi pada trakea.
·                     Sel-sel trakeid itu kebanyakan mengalami penebalan sekunder, lumen selnya tidak mengandung protoplas lagi.
·                     Dinding sel sering bernoktah. Trakeid memiliki dua fungsi, yaitu sebagai unsur penopang dan penghantar air.
2.      Trakea (Komponen Pembuluh)
Trakea terdiri atas sel-sel silinder yang setelah dewasa akan mati dan ujungnya saling bersatu membentuk sebuah tabung penghantar air bersel banyak yang disebut pembuluh.
Dindingnya berlubang-lubang tempat lewat air dengan bebas dari satu sel ke sel lain sehingga berbentuk suatu tabung yang strukturnya mirip sebuah talang.
Kekhususan pada trakea antara lain, ukurannya lebih besar daripada sel-sel trakeid dan membentuk untaian sel-sel longitudinal yang panjang, penebalan-penebalannya terdiri atas zat lignin yang tipis dibandingkan trakeid.

3.      Parenkim Xilem
Parenkim xilem biasanya tersusun dari sel-sel yang masih hidup.
·                     Dapat dijumpai pada xilem primer dan sekunder.
·                     Pada xilem sekunder dijumpai dua macam parenkim, yaitu parenkim kayu dan parenkim jari-jari empulur.
·                     Parenkim kayu sel-selya dibentuk oleh sel-sel pembentuk fusi unsur-unsur trakea yang sering mengalami penebalan sekunder pada dindingnya.
·                     Parenkim jari-jari empulur tersusun dari sel-sel yang pada umumnya mempunyai dua bentuk dasar, yakni yang bersumbu panjang ke arah radial dan sel-sel bersumbu panjang ke arah vertikal.
·                     Sel-sel parenkim xilem berfungsi sebagai tempat cadangan makanan berupa zat tepung. Zat tepung biasanya tertimbun sampai pada saat-saat giatnya pertumbuhan kemudian berkurang bersamaan dengan kegiatan kambium.


Floem

·                     Floem berfungsi untuk mengangkut dan menyebarkan zat-zat makanan yang merupakan hasil fotosintesis dari bagian-bagian lain yang ada di bawahnya.
·                     Floem mempunyai susunan jaringan yang sifatnya demikian kompleks, terdiri atas beberapa macam bentuk sel dan di antaranya terdapat sel-sel yang masih tetap hidup atau aktif dan sel-sel yang telah mati.
·                     Sel yang menyusun floem antara lain sel tapis, sel penyerta, sel serabut, kulit kayu, dan sel parenkim kulit kayu.
·                     Pada kegiatan mencangkok, bagian ini harus dikelupas habis.
·                     Mengapa demikian?
·                     Hal ini dilakukan supaya zat-zat makanan tertimbun pada bagian tersebut sehingga dapat terbentuk akar-akar pada media cangkoknya.


Struktur floem 
Floem terdiri atas unsur-unsur berikut.
1.      Unsur-Unsur Tapis
2.      Sel Pengantar / Sel pengiring
3.      Sel Albumin
4.      Parenkim Floem
5.      Serat-Serat Floem

1)      Unsur-Unsur Tapis
Unsur-unsur tapis memiliki ciri-ciri, yaitu adanya daerah tipis di dinding dan intinya hilang dari protoplas. Daerah tapis merupakan daerah noktah yang termodifikasi dan tampak sebagai daerah cekung di dinding yang berpori-pori. Pori-pori tersebut dilalui oleh plasmodesmata yang menghubungkan dua unsur tapis yang berdampingan. Sel-sel tapis merupakan sel panjang yang ujungnya meruncing di bidang tangensial dan membulat di bidang radial. Dinding lateral banyak mengandung daerah tapis yang berpori. Pada komponen bulu tapis, dinding ujungnya saling berlekatan dengan dinding ujung sel di bawahnya atau di atas sehingga membentuk deretan sel-sel memanjang yang disebut pembuluh tapis.
2) Sel Pengantar
Sel pengantar merupakan sel muda yang bersifat meristematis. Sel-sel pengantar di duga mempunyai peran dalam keluar masuknya zat-zat makanan melalui pembuluh tapis.
3) Sel Albumin
Sel albumin terdapat pada tanaman Conifer, yang merupakan sel-sel empulur dan parenkim floem, mengandung banyak zat putih telur dan terletak dekat dengan sel-sel tapis. Diduga sel-sel albumin mempunyai fungsi serupa dengan sel pengantar.
4) Parenkim Floem
Parenkim floem merupakan sel-sel hidup yang berfungsi untuk menyimpan zat-zat tepung, lemak, dan zat organik lainnya dan juga merupakan tempat akumulasi beberapa zat seperti zat tannin dan resin.
5) Serat-Serat Floem
Serat-serat floem merupakan sel-sel jaringan yang telah mengayu. Di dalam berkas pengangkut, unsur-unsur xilem dan floem selalu terdapat berdampingan atau salah satu di antaranya terletak mengelilingi unsur lain.
Kenyataan di alam menunjukkan bahwa floem selalu terdapat berpasangan dengan xilem untuk membentuk berkas pengangkut pada tumbuhan. Dalam pengamatan di bawah mikroskop, berkas pengangkut dapat dengan mudah dibedakan dengan jaringan parenkim di sekitarnya karena relatif kecil dan tanpa ruang antarsel. Hanya trakea yang sel-selnya lebih besar dibandingkan sel-sel di sekitarnya.
Unsur penyusun pembuluh floem terdiri atas dua bentuk, yaitu
1.      sel tapis (sieve plate) berupa sel tunggal dan bentuknya memanjang
2.      buluh tapis (sieve tubes) yang serupa pipa.

·                     Dengan bentuk seperti ini pembuluh tapis dapat menyalurkan gula, asam amino serta hasil fotosintesis lainnya dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.

Tipe-tipe berkas pengankut
Berdasarkan posisi xylem dan floem dibedakan atas :
1.                  Tipe kolateral
2.                  Tipe konsentrisanaman dikotil
3.                  Tipe radial
Tipe kolateral
·                     Kolateral terbuka, jika diantara xylem dan floem terdapat cambium pada anggota yanaman dkotil
·                     Kolateral tertutup, jikaq antara xylem dan floem tidak dijumpai kambium pada tanaman monokotil
Tipe konsentris

·                     Konsentris amfikibral, apabila xylem berada ditengah dan floem mengelilingi xylem
·                     Konsentris amfivasal, apabila floem ada ditengah dan xylem mengelilingi floem
Tipe radial
·                     Tipe radial, xilem dan floem letaknya bergantian menurut jari-jari lingkaran



Tabel 1. Jaringan Penyusun Daun Dikotil Beserta Letak, Fungsi, dan Ciri-Cirinya
No
Jaringan
Letak
Fungsi
Ciri - Ciri
a)
Epidermis
Menyusun lapisan permukaan
atas dan bawah daun.
– Melindungi lapisan sel di
bagian dalam dari kekeringan.
– Menjaga bentuk daun agar
 tetap.
Terdiri dari satu lapis sel kecuali
tanaman Ficus (tanaman karet).
b)
Kutikula
Melapisi permukaan
atas dan bawah daun.
Zat kutin pada kutikula
mencegah penguapan air
melalui permukaan daun.
Penebalan dari zat kutin.
c)

Stomata
Melapisi permukaan
atas dan bawah daun
– Sebagai jalan masuk dan
keluarnya udara.
– Sel penjaga sebagai pengatur
membuka dan
menutupnya stomata.
Mulut daun pada epidermis
dengan dua sel penutup
d)
Rambut dan
kelenjar
Permukaan atas dan
bawah daun.
Alat pengeluaran.
Alat tambahan pada epidermis
e)
Mesofil
Di antara lapisan epidermis
atas dan
bawah.
Tempat berlangsungnya
fotosintesis.
– Terdiri dari sel parenkim,
banyak ruang antarsel.
– Kebanyakan berdiferensiasi
menjadi palisade (jaringan
tiang) dan spons (jaringan
bunga karang).
– Sel-sel jaringan tiang berbentuk
silinder, tersusun rapat,
dan mengandung klorofil.
– Sel-sel jaringan bunga karang
bentuknya tidak teratur, bercabang-
cabang dan berisi
kloroplas, susunannya renggang.
f)
Urat daun
Pada helai daun.
Transportasi zat.
Menyirip atau menjari.

Tabel 2. Jaringan Penyusun Daun Monokotil Beserta Letak, Fungsi, dan Ciri-Cirinya
No
Jaringan
Letak
Fungsi
Ciri - Ciri
a)
Epidermis
dan
kutikula
Lapisan permukaan atas
dan bawah daun.
– Melindungi lapisan sel di
bagian dalam dari kekeringan.
– Mencegah penguapan air
melalui permukaan daun.
Terdiri dari satu sel dengan penebalan
dari zat kutin.
b)
Stomata
Berderet di antara urat
daun.
Sebagai jalan masuk dan
keluarnya udara.
Mulut daun dengan dua sel penutup.
c)
Mesofil
Pada cekungan di
antara urat daun.
Membuat zat makanan melalui
fotosintesis.
Tidak mengalami diferensiasi, bentuknya
seragam kecuali mesofil berkas
pengangkut lebih besar, kloroplasnya
lebih sedikit, dindingnya lebih tebal.
d)
Urat daun
Pada helai daun.
Transportasi zat.
Sejajar.